1
previous arrow
next arrow

Tri Kahyangan Desa · Sukawati, Gianyar

Pura Desa Sukawati

Sejak 1001 Masehi

Diletakkan oleh Mpu Kuturan,
dijaga oleh warga Sukawati

Konsep Tri Kahyangan dibawa oleh Mpu Kuturan, yang datang ke Bali untuk menata pemujaan kepada Tuhan dalam wujud Brahma, Wisnu, dan Siwa. Dari gagasan itulah Pura Desa dan Pura Puseh Sukawati berdiri, dijaga turun-temurun oleh masyarakat adatnya.

Pura ini mula-mula dibangun di kawasan Pura Lumbung, sebelum bergeser ke timur dan menghadap jalan selatan sekitar tahun 1928-wujud yang masih dapat disaksikan hingga hari ini.

Mpu Kuturan memperkenalkan konsep Tri Kahyangan dan pemujaan Tri Murti di Bali.

Pura Desa Sukawati digeser ke timur, menghadap jalan selatan, ke posisinya sekarang.

Upacara besar Ratu Bagia dilaksanakan, dan terus diperingati oleh masyarakat Sukawati.

Tiga Halaman, Tiga Tingkat Kesucian

Menyusuri Konsep Tri Mandala

Nista Mandala

Halaman Luar


Area terluar pura yang berfungsi sebagai tempat persiapan dan penyambutan sebelum memasuki kawasan yang lebih suci.

Madya Mandala

Halaman Tengah


Area tengah pura yang digunakan untuk berbagai kegiatan adat, keagamaan, dan tempat berkumpulnya masyarakat.

Utama Mandala

Halaman Tersuci


Area paling suci yang menjadi pusat pemujaan serta tempat berdirinya pelinggih-pelinggih utama pura.

Tiga Pura, Satu Keseimbangan

Konsep Tri Kahyangan

Pura ini merupakan bagian dari konsep Tri Kahyangan, di mana Pura Desa dan Pura Puseh menjadi tempat pemujaan yang dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat Desa Sukawati.

Dewa Brahma

Pura Desa

Sang Pencipta


Tempat memuja kekuatan penciptaan, distanakan dalam Meru Tumpang Tujuh di Utama Mandala.

Dewa Wisnu

Pura Puseh

Sang Pemelihara


Memuja kekuatan pemeliharaan semesta, berdampingan dengan Pura Desa dalam satu kompleks.

Dewa Siwa

Pura Dalem

Sang Pelebur


Melengkapi keseimbangan Tri Murti sebagai tempat pemujaan kekuatan peleburan.

Konsep Tiga Gapura

Tri Murti dan Keseimbangan Kehidupan

Gapura dibuat dari batu bata dan batu padas (paras). Batu paras diambil dari Sungai Petanu, sedangkan batu bata dibuat sendiri oleh masyarakat Sukawati.


Kiri

Pintu sebelah kiri, sebagai pintu keluar, melambangkan aspek Dewa Brahma (Dewa Pencipta).

Tengah

Pintu tengah melambangkan jalan menuju Tuhan.

Kanan

Pintu sebelah kanan melambangkan aspek Dewa Wisnu (Dewa Pemelihara).


210

Hari Wuku Bali

Rabu, Wuku Natal

Piodalan & Waktu Berkunjung

Piodalan Pura Desa & Puseh Sukawati jatuh setiap hari Rabu Wuku Natal, mengikuti perputaran Kalender Wuku Bali setiap 210 hari.


Piodalan dilaksanakan setiap enam bulan sekali berdasarkan Kalender Wuku Bali.

Mengapa Berkunjung

Tujuan Wisata Budaya Bernilai Sejarah

Pura Desa & Puseh Sukawati merupakan salah satu tujuan wisata budaya yang memiliki nilai sejarah tinggi dan keindahan arsitektur khas Bali. Keindahan ukiran batu putih Bali yang dipadukan dengan batu bata merah menciptakan pemandangan yang sangat menarik dan memberikan pengalaman budaya yang berkesan bagi setiap pengunjung.

Galeri

Dokumentasi Pura